• Jelajahi

    Copyright © Portal Jambi | Berita Jambi | Pilgub Jambi | Jambi | Corona Jambi | Kerinci | Berita Tebo | Bungo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    Lagi Viral !! Literatur Ilimiah tentang Tumbuhan Laban yang Disebut Dalam Mimpi sebagai Obat Virus Corona

    Dilihat 0 kali Selasa, 07 April 2020, 19.06 WIB Last Updated 2020-04-07T12:20:37Z
    Daun Laban
    Virus Corona, BANGKA - Video seorang pria asal Kabupaten Bangka sempat membuat warganet heboh ditengah pandemi Covid-19.
    Pasalnya, dalam video pria tersebut menceritakan petunjuk di mimpinya bahwa obat yang dapat menyembuhkan Covid-19 adalah pucuk daun leben atau laban.
    Bangkapos.com berusaha menelusuri seputaran tumbuhan laban secara ilmiah dibantu oleh Peneliti di Bidang Botani Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Deden Girmansyah.
    Ia mengatakan nama ilmiah atau latin laban yakni Vitex pinnata L menjadi sinonim Vitex pubescens Vahl sekarang.
    "Jenis ini banyak ditemukan di daerah terbuka. Tersebar di Indonesia dan Malaysia," ujar Deden dalam pesan email saat dikonfirmasi bangkapos.com, Senin (6/4/2020).
    Ekologi tumbuhan ini dari beberapa literatur menunjukan jenis tumbuhan yang toleransi atau tahan terhadap api.
    Pohon berfamili Lamiaceae ini tumbuh lambat, hingga 20 meter.
    Bila diperhatikan saksama daun berwarna hijau dengan ujung daun meruncing, pucuk daun berwarna hijau agak kemerahan dan daunnya beraroma. Batang memiliki warna cokelat kehijauan.
    Daun dan pohon Laban yang memiliki banyak khasiat, disebut bisa sembuhkan Virus Corona Covid-19 (Kolase)
    Tumbuhan ini pun baik daun, kayu hingga ranting sudah pernah diteliti.
    Satu di antaranya, dikutip dari jurnal Mastura et.al bahwa dari hasil uji skrining fitokimia menunjukan bahwa daun vitex pubscens Vahl mengandung metabolit sekunder senyawa fenolik, flavonoid, saponin, dan triterpenoid yang tinggi.
    Kandungan Laban Kata Apoteker Klinik
    Apoteker Farmasi Klinik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah Apt. Sudarsono M.Sc menjelaskan kandungan leben secara ilmiah.
    "Dari penelusuran literatur bahwa tumbuhan ini merupakan genus dari Verbenaceae, yang terdiri dari 250 spesies. laban sendiri yang dimaksud bernama ilmiah Vitex pubescens Vahl. Tapi apakah laban yang dimaksud pria dalam video itu Vitex pubescens Vahl?,"ujar Sudarsono saat dikonfirmasi bangkapos.com, Senin (6/4/2020).
    Dijelaskan dari beberapa literatur yang diperolehnya, laban (Vitex pubescens Vahl) diketahui bahwa daun dan kulit kayu secara tradisional sering digunakan untuk mengobati encok, demam, penawar racun kalajengking, gangguan saluran cerna, meningkatkan nafsu makan, disentri, anti pembengkakan, rhinitis, kanker dan juga untuk meningkatkan stamina.
    Selain itu, juga sering digunakan pengusir serangga (bug rapellent), antifungi, antimikroba, untuk menstruasi dan gynecology.
    "Tumbuhan itu sudah pernah diteliti dan beberapa kandungannya sudah ditemukan. Di antaranya senyawa yang pernah diidentifikasi dari ekstrak kulit kayu laban oleh Lenny Anwar dkk dari Departemen Kimia dan Farmasi Andalas tahun 2015 adalah Andrographolide dan Methyl p-hydroxybenzoate,"sebut Sudarsono.
    Senyawa Andrographolide berdasarkan literatur memiliki aktivitas biologis sebagai anti-inflamasi, anticancer dan antitumor, immunology, anti-diabetes, antimikroba, dan antivirus.
    Sedangkan senyawa Methyl p-hydroxybenzoate dapat digunakan sebagai antijamur untuk makanan dan kosmetik.
    Perlukah Penelitian Lebih Lanjut?
    Menurut Sudarsono, jika mengikuti ilmu cocokimologi mungkin memang bisa digunakan untuk obat Covid-19 karena memiliki efek anti inflamasi, antivirus dan juga meningkatkan stamina.
    "Tapi hal ini tidak dapat diterima berdasarkan ilmu farmakologi karena tidak didukung oleh uji klinis sehingga aspek khasiat dan keamanannya tidak dapat dipertanggungjawabkan,"sebutnya.
    Mimpi memang tidak bisa dijadikan dasar klaim khasiat obat secara ilmiah.
    "Tapi bagi kami apoteker yang konsentrasi dengan pengembangan obat mimpi bisa menjadi dasar penelitian pengembangan obat baru yg ilmunya di sebut etnofarmakognosi. Jadi informasi sekecil apapun sangat layak untuk dilakukan penelitian lebih lanjut secara medis,"jelas Sudarsono.
    Lebih lanjut, ia menambahkan pengujiannya dapat dimulai dari uji praklinik yang dilanjutkan dengan uji klinik sampai dinyatakan memiliki khasiat dan aman untuk digunakan sebagai obat.
    Sumber : Bangkapos.com
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini